Logo SD 2 Darul Hikam

Sekolah Islam Bandung, SD di Rancaekek Kabupaten Bandung, Darul Hikam, SD 2 Darul Hikam Rancaekek


Ilmu, Amanah, dan Kerendahan Hati
Published: 06 Mei 2026 07:43

"Ilmu, Amanah, dan Kerendahan Hati"

Dalam dunia pendidikan, kita sering berbicara tentang kompetensi, pengalaman, dan jenjang. Namun Islam mengajarkan bahwa ilmu bukanlah alat untuk meninggikan diri, melainkan amanah untuk menerangi sekitar.

Allah berfirman:

> “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah: 11)

Menariknya, ayat ini tidak mengatakan manusia yang meninggikan, tetapi Allah. Artinya, derajat tidak lahir dari pengakuan, jabatan, atau senioritas, melainkan dari bagaimana ilmu itu dijaga adab dan manfaatnya.

Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dengan sangat tegas namun halus:

> “Cukuplah seseorang dikatakan buruk apabila ia meremehkan saudaranya.”
(HR. Muslim)

Dalam konteks pendidikan, ini menjadi peringatan yang dalam.
Sebab meremehkan bukan sekadar sikap personal, tetapi bisa berubah menjadi penghalang ilmu untuk sampai kepada peserta didik.

Kadang, tanpa kita sadari, kita lebih sibuk menjaga posisi daripada membuka ruang kolaborasi. Padahal setiap potensi yang Allah titipkan di sekitar kita—jika diabaikan—bukanlah sesuatu yang netral. Ia adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah berfirman:

> “Janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena siapa yang menyembunyikannya, maka hatinya berdosa.”
(QS. Al-Baqarah: 283)

Ilmu juga kesaksian.
Dan menyia-nyiakan ilmu—di mana pun ia berada—adalah bentuk pengingkaran amanah.

Islam tidak mengajarkan kita untuk berlomba siapa yang paling terlihat,
tetapi siapa yang paling memberi manfaat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Maka mungkin, ukuran kemuliaan seorang pendidik bukan pada seberapa sering ia didengar,
tetapi seberapa luas ia memberi ruang bagi cahaya ilmu—meski bukan dari dirinya sendiri.

Dan jika suatu saat kita merasa tidak dilihat, tidak disebut, atau tidak dipakai,
Al-Qur’an menenangkan kita:

> “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui siapa yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurāt: 13)

Pengakuan manusia bisa keliru.
Tetapi penilaian Allah tidak pernah salah alamat.

Semoga kita semua dijaga dari ilmu yang tidak menumbuhkan kerendahan hati,
dan diberi kekuatan untuk menjadi pendidik yang mengangkat, bukan meniadakan.

> “Ilmu tidak pernah rugi karena tidak diakui manusia, tetapi bisa menjadi petaka jika digunakan untuk merendahkan.”

Ipah Syarifah, S
pd., Gr.